“Elo sech.. kebanyakan minum… makanya susah punya anak…”

IMG_6533In frame: Baby Arjuno P.W. MacLaren at age 2 days old on 9th June 2018 (the use of this image has been approved by the baby’s mother after the Writer bribe her with $10000 #kidding)

Setiap kita menengok bayi yang baru lahir… atau setiap kita mem-posting foto sambil menggendong bayi di sosial media…

Biasanya lantas akan ada pertanyaan “kamu kapan punya anak?”

Ketika mereka menganggap setiap pernikahan harus langsung ada namanya anak.

Yang terkadang membuat saya merasa geli adalah ketika kita sudah menikah dan tidak segera memiliki anak adalah orang-orang menganggap  karena kita memiliki “masalah”.

Dan dengan lantangnya orang-orang sekitar, penuh dengan percaya diri dan berasa paling tahu mengatakan, “elo sech… kebanyakan lari.. kurangi lari biar cepat punya anak…” atau “elo sech.. kebanyakan  minum (alkohol) kurangin laah demi punya anak…” atau yg lebih lucu adalah “lo sech.. traveling sendiri mlulu.. jadi nggak bikin-bikin anak dech…”

Hey dude…!! Relax…!! Kalau dalam serial film Game of Throne, “…you know nothing John Snow… you know nothing…”

Saya dan Partner memiliki dua dokter yang berbeda (no, not bcos we rich, we have our own idealism for a doctor). Dan tidak pernah sekalipun mempermasalahkan my life style what so you called, “… lo sech kebanyakan lari (marathon)…” atau “… lo sech kebanyakan minum (alkohol)…” 

Tidak ada dokter yg mengatakan saya tidak boleh melakukan 2 hal yang membuat saya “stay sane” dan terhindar dari menjadi orang yang merasa tahu segalanya dan mengurusi orang lain. Karen saya, partner & dokter know… I KNOW THE LIMIT. 

So stop assuming I dont have baby NOW because saya punya “masalah”.

Pertama, sebenarnya saya tidak begitu suka mengumbar rencana hidup keluarga. Hidup saya penuh dengan perencanaan yang matang karena saya tidak mau hidup berjalan apa adanya dan ada apanya. Saya dan Partner sudah memutuskan untuk memiliki FUNDS buat anak bahkan sebelum menikah (So tell me, how not well prepared I am for my future generations) dan tentu saya INSURANCES setelah bayi lahir dan menambah jumlah penduduk di dunia ini. Juga perencanaan-perencanaa yang lain yang bahkan saya sendiri muak untuk mendengarnya (but I know, its for the best).

Sebelum memutuskan bersama, saya & Partner melakukan tes kesehatan-what so u called how to have baby- soon setelah menikah. Dan apapun hasil nya kami berdua siap memutuskan apakah, apabila salah satu dari kami ternyata memiliki “masalah” untuk memiliki keturunan hubungan akan dilanjutkan atau memutuskan untuk berpisah. Memang tidak semua pasangan do openly discuss about this karena dianggap”tabu”. 

And we both are fine. Anytime we want to have baby, we can just do the fun, exciting &  happiest activity of marriage or not marriage couple love to do the most. My body ready to be babies factory !!

Banyak kasus yang karena tidak adanya persiapan untuk berumah tangga & berencana memiliki keturunan ternyata salah satu pihak memiliki “masalah” dan berujung dengan “dramas”. Dari yang perempuan disalahkan karena dianggap tidak bisa memiliki keturunan baik dari suami (as*****) maupun keluarga suami (kenapa perempuan selalu yang disalahkan?) sampai dengan adanya perceraian (biasanya dari pihak keluarga suami yang mendorongnya karena dianggap membuat malu kelurga besar…). Please …

Banyak alasan kenapa orang yang memutuskan untuk berumah tangga tidak langsung memiliki anak.

Ada yang karena MUNGKIN tidak melakukan perencanaan seperti TES KESEHATAN BIAR PUNYA ANAK  (no hard feeling for those who dont) & ternyata salah satu pihak memiliki “masalah” (God bless you both untuk melakukan semua program-program & proses-proses yang melelahkan), dan saya tidak merasa saya berhak mengatakan, “lo sech.. makanya sebelum kawin tes kesuburan dulu biar tao lo bisa hamil ato nggak.. ato suami lo tuch… harusnya tes sperma dulu biar tau dia subur ato kagak…”.

No…No…No… thats not my place to say that. Setiap orang memiliki hak untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan. Kalo ternyata salah satu dari pasangan memiliki “masalah”, lets support them. Stop asking “…kapan lo mau punya anak(?)”.

You never know the impact for those yang punya masalah untuk punya anak. Lets just support them, pray for them… berhenti lah menjadi orang yang sok tahu dengan mengatakan, “… udah program aja.. ke dokter ini.. ke dokter itu.. ke negara ini… ke negara itu…” atau berasa sangat berpengalaman dengan “HOW TO HAVE KIDS AFTER MARRIAGE”  dan mengatakan, “… jangan capek2… jangan stress… jangan kebanyakan olah raga .. etc etc….”

Again…. “you know nothing John Snow… you know nothing…”.

Berhentilah menjadi orang yang maha tahu dengan apa yang orang lain harus lakukan in order to have KETURUNAN. 

Saya yakin pasangan yang memiliki “masalah” sudah tahu apa yang harus dilakukan & dengan siapa harus berbicara. Dengan ahlinya..!! Seorang Dokter yang dengan tulus belajar bertahun-tahun untuk bisa membantu para pasangan yang INGIN & HARUS memiliki keturunan karena “tuntutan sosial”.

Kedua, karena pasangan ingin memiliki perencanaan yang matang untuk masa depan sang buah hati agar memiliki kehidupan & masa depan yang “layak”. Banyak yang mengatakan (again), “anak sudah ada rejekinya…” i know…. tapi rejeki itu datang dari mana kalau bukan dari orang tua yang mempersiapkan dengan baik. Saya yakin orang tua ingin memberikan “rejeki anak yang “layak” bukan rejeki yang “segitu aja”.

Terkadang tidak adanya persiapan baik  secara mental dan financial muncul beberapa masalah. Saya yakin saya tidak perlu menjabarkannya, nanti menjadi terlalu panjang pembahasannya.

Ketiga, hal yang banyak pasangan putuskan adalah UNTUK TIDAK MEMILIKI ANAK setelah menikah. Dont be surprised. Those kind of decision is exist. Keputusan tersebut juga bisa karena beberapa hal. Bisa karena salah satu atau masing-masing pasangan sudah memiliki anak sebelumnya dan memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi. Atau memang karena ingin menikmati hidup hanya dengan pasangan tanpa memiliki anak. Jangan khawatir, mereka juga tetap bahagia dengan keputusan yang mereka pilih.

Jadi my dearest fellow Indonesian… 

Cobalah untuk berbahagia dengan kehidupan orang lain apapun itu yang kalian lihat di sosial media, biar hidup kita lebih tenang… 

Eni EL (June 2018)

2 thoughts on ““Elo sech.. kebanyakan minum… makanya susah punya anak…”

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: