Where do we go now / Et Maintenant on va où

Merupakan satu film yang mendapatkan penghargaan sebagai “Best Picture” dalam Toronto International Music Festival (People’s Choise Audience Award) tahun 2011.

Where Do We Go Now (1)Image source: filmwalrus.com

Film ini berlatar belakang suatu desa di Lebanon yang hanya bisa diakses dengan sebuah jembatan sempit dengan dunia luar. Di desa tersebut tinggal masyarakat muslim dan kristen yang hidup berdampingan dengan damai. Suatu hari masyarakat desa tersebut menyaksikan berita di tv yang menyiarkan adanya konflik agama di sana (negara Lebanon). Setelah melihat berita tersebut timbulah ketegangan diantara masyarakat muslim dan kristen. Ketegangan semakin memanas, perempuan muslim dan kristen di desa tersebut bersatu memastikan bahwa konflik yang terjadi di negara tidak mempengaruhi kerukunan di desa mereka.

Lebanon

Merupakan negara terkecil di benua Asia dengan luas 10,45 km2 dan mendapatkan kemerdekaannya dari negara Perancis pada tahun 1943. Lebanon memiliki bahasa resmi Arab dan Perancis dan mayoritas penduduk beragama muslim dan kristen. Pada tahun 1975 terjadi ketegangan antara  muslim dan kristen yang mengakibatkan terjadinya perang Sipil di negara tersebut.

Peran perempuan

Budaya patriarki terlihat kental di desa tersebut. Namun meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda, mereka bisa hidup rukun. Hanya karena mereka melihat berita tentang perang sipil di  negara tersebut, timbul permasalahan-permasalahan kecil yang akhirnya menyebabkan pertengkaran dan perkelahian. Bahkan para lelaki berencana untuk melakukan perang karena adanya perselisihan.

Berdasarkan film tersebut perempuan memiliki peran yang krusial. Namun dengan pengemasan yang cantik dengan humor yang bisa menonjolkan bahwa suara perempuan juga di dengarkan. Bahkan, bisa kita lihat bahwa laki-laki di desa tersebut cukup menghormati perempuan. Ide-ide dari perempuan desa tersebut yang cukup cerdik dan masuk akal dalam mencegah adanya perpecahan di desa mereka. Bagaimana pun wanita bisa berpikir panjang tidak dengan emosi.

Bagaimana perempuan bisa menyembunyikan perasaan. Salah satu perempuan mendapati anak laki-lakinya meninggal karena tertembak oleh orang muslim saat pergi keluar dari desa tersebut (dia adalah penduduk agama kritsten). Dan yang menembak anaknya bukanlah orang muslim dari desa mereka. Untuk mencegah situasi semakin memanas, perempuan tersebut bahkan menyembunyikan kematian anak laki-lakinya itu.

Laki-laki yang cenderung berpikir menggunakan otot kalah dengan perempuan yang berpikir dengan menggunakan otak.

Source: https://www.telegraph.co.uk

eni el

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: